Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Jejak Nafas dan Sentuhan
Di belakangnya, Pak Guru duduk dengan kaki disilangkan, matanya terpaku pada tubuh Bu Eroh yang terlihat semakin menggoda dalam kegelapan kabin. Napasnya mulai memburu saat pandangannya menjelajah dari betis yang ramping, naik ke paha yang halus, lalu berhenti di celah rok yang sedikit terbuka. Dia menelan ludah, jari-jarinya mulai gatal. Sudah berapa lama dia menahan hasrat ini? Terlalu lama.
Dengan hati-hati, dia condongkan badan ke depan, tangan kanannya meraih paha Bu Eroh yang terbuka lebar. Kulitnya terasa hangat dan lembut, seperti sutra. Jari-jari Pak Guru mulai merayap ke atas, perlahan-lahan, merasakan setiap sentimeter kulit yang halus. Dia mendengar desahan pelan dari bibir Bu Eroh, tapi wanita itu tetap tertidur. Mungkin dia bermimpi tentangku, pikirnya sambil tersenyum nakal.
"Ah, Bu Eroh," bisiknya pelan, suaranya serak penuh nafsu. Tangannya kini sudah mencapai pinggangnya yang ramping, jempolnya mengusap-usap kulit di bawah kaus yang tipis. Dia bisa merasakan panas tubuhnya, bahkan melalui kain. Aroma parfumnya semakin kuat, bercampur dengan bau keringat yang samar—bau seorang wanita yang lelah tapi masih menarik. Pak Guru menarik napas dalam-dalam, matanya semakin gelap.
Tanpa ragu, tangannya menyelinap di bawah rok pendek Bu Eroh. Paha dalamnya terasa lebih hangat, lebih lembut. Jari-jarinya merayap lebih dalam, hingga menyentuh tepi celana dalam yang sudah basah. Oh, Tuhan. Dia merasakan kelembaban yang jelas, bukti bahwa tubuh Bu Eroh merespons sentuhannya meski dalam tidur. Jantungnya berdebar kencang, darahnya mengalir deras ke selangkangannya, membuat celananya semakin sesak.
"Mmm," desis Bu Eroh, tubuhnya bergeser sedikit, pahanya terbuka lebih lebar tanpa sadar. Pak Guru menahan napas, jari-jarinya kini sudah menyentuh bibir vagina Bu Eroh melalui celana dalam. Dia mengusapnya pelan, merasakan betapa basah dan panasnya. Dia pasti sudah terangsang sejak tadi. Pikirannya semakin kotor, hasratnya tak terbendung lagi.
Dengan gerakan yang terlatih, dia menarik celana dalam Bu Eroh ke bawah, perlahan-lahan, hingga terpapar di hadapannya: vagina Bu Eroh yang basah, berkilau dalam cahaya redup, bibirnya sedikit mengembang, mengundang. Pak Guru menelan ludah lagi, matanya terpaku pada pemandangan itu. Dia bisa melihat klitorisnya yang sudah membengkak, menunggu untuk disentuh.
Tanpa berpikir dua kali, dia menggeser posisinya, tubuhnya sekarang hampir merangkak ke depan, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari sasarannya. Dia meniupkan napas hangat ke vagina Bu Eroh, mendengar desahan wanita itu semakin dalam. Lalu, lidahnya menjulur, menjilati dari bawah ke atas, lambat dan penuh kenikmatan.
"Ohhh," rintih Bu Eroh, masih dalam tidurnya, tubuhnya mulai bergoyang pelan. Pak Guru tersenyum, lidahnya kini fokus pada klitorisnya, menjilati dengan gerakan melingkar, kadang menyedot lembut. Tangannya yang satunya meraih payudara Bu Eroh, meremasnya melalui kaus tipis, merasakan puting yang sudah keras.
"Aah, Pak Guru," desis Bu Eroh, kali ini suaranya lebih jelas, matanya mulai berkedip, berusaha terbuka. Tapi dia tidak bergerak untuk menghentikannya. Malah, tangannya yang terkulai tadi sekarang bergerak, merangkul kepala Pak Guru, menariknya lebih dekat ke antara pahanya. "Jangan berhenti," katanya dengan suara yang masih mengantuk, tapi penuh hasrat.
Pak Guru semakin bersemangat. Lidahnya bergerak lebih cepat, menjilati dan menyedot klitoris Bu Eroh dengan ritme yang teratur. Tangannya yang di payudara kini mencubit putingnya melalui kaus, membuat Bu Eroh mengerang keras. Dia bisa merasakan vagina Bu Eroh semakin basah, airnya mulai menetes ke lidahnya, rasanya asin dan manis, membuatnya semakin haus.
"Ah! Pak Guru, aku—" Bu Eroh mendesah panjang, tubuhnya melengkung, pinggulnya mendorong wajah Pak Guru lebih dalam. Dia kini sudah sepenuhnya sadar, tapi tidak ada niat untuk menghentikannya. Malah, kakinya terbuka lebih lebar, memberi akses penuh. "Aku mau… aku mau cum," katanya dengan suara gemetar, jari-jarinya mencengkeram rambut Pak Guru.
Pak Guru mengangguk, lidahnya bergerak lebih cepat, dua jarinya kini masuk ke dalam vagina Bu Eroh, memijat dinding dalamnya yang sudah berkontraksi. Dia bisa merasakan otot-ototnya mengencang, menandakan orgasme sudah dekat. "Cum buat Pak Guru, sayang," bisiknya, suaranya penuh otoritas, tapi juga penuh nafsu. "Biarkan Pak Guru rasakan manisnya."
Dan Bu Eroh menuruti. Tubuhnya kaku sejenak, lalu dia meremas erat paha Pak Guru dengan kakinya, pinggulnya bergetar keras saat air maninya memancar deras, membasahi lidah dan dagu Pak Guru. Dia mengerang panjang, suara yang terpendam selama ini akhirnya keluar, memenuhi kabin mobil. "Aaaah, Pak Guru! Terus, jangan berhenti!"
Pak Guru terus menjilati, menelan setiap tetes cairan Bu Eroh, lidahnya tidak berhenti sampai wanita itu berhenti gemetar. Barulah dia mengangkat wajah, bibir dan dagunya berkilau basah, matanya memandang Bu Eroh yang kini terbangun sepenuhnya, wajahnya memerah, napasnya masih tersengal-sengal.
Bu Eroh membuka matanya lebar-lebar, pandangannya bertemu dengan mata Pak Guru yang penuh nafsu. Dia tersenyum malu, tapi juga merasa bersalah. Apa yang baru saja terjadi? Tapi tubuhnya masih terasa panas, vaginanya masih berdenyut, menginginkan lebih.
"Maafkan aku, Bu Eroh," bisik Pak Guru, suaranya lembut tapi masih serak. Dia mendekatkan wajahnya, mencium kening Bu Eroh dengan lembut. "Aku tidak bisa menahan diri. Kamu terlalu menggoda."
Bu Eroh hanya tersenyum, tangannya meraih lengan Pak Guru, menariknya lebih dekat. Dia bisa merasakan detak jantung Pak Guru yang masih berdebar kencang, sama seperti miliknya. "Aku… aku juga tidak menolak," katanya pelan, matanya menatap bibir Pak Guru yang masih basah oleh cairannya sendiri.
Mereka berdua terdiam sejenak, hanya terdengar suara napas mereka yang masih tersengal. Di luar, mobil masih berjalan pelan, tanpa tujuan. Tidak ada yang tahu apa yang baru saja terjadi di dalamnya—seorang guru dan muridnya yang sudah dewasa, terjerat dalam hasrat terlarang yang tak bisa mereka bendung lagi.
Bu Eroh merasakan celana dalamnya masih tergantung di salah satu pergelangan kakinya, vaginanya terbuka, terasa dingin setelah panasnya lidah Pak Guru. Dia tidak berusaha menutupinya. Malah, tangannya pelan-pelan meraih selangkangan Pak Guru, merasakan betapa keras dan besarnya melalui celana. "Kamu juga belum selesai, kan?" bisiknya, sambil mengusap-usap dengan jari-jarinya, membuat Pak Guru mengerang pelan.
Pak Guru menatapnya, matanya berkilau penuh hasrat. Dia tahu, ini baru permulaan. Dan dia tidak akan berhenti sampai keduanya benar-benar puas.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya